Sugeng Rawuh Poro Tamu dumugi ing situs ipun mas Puthut Wibowo.....ampun di isin isin njihh,amargi niki taseh ajaran
Showing posts with label hobiku. Show all posts
Showing posts with label hobiku. Show all posts

Kita Aremania bukan Robertmania, tak perlu sesali kepergian Mr.Trebor

Keluar sebagai Juara Liga Super Indonesia musim 2009-2010 membuat Arema FC menjadi team yang menjadi kandidat kuat untuk kembali menjuarai Liga Super musim depan atau minimal menghuni papan atas usai ISL selesai jika gagal mempertahankan gelarnya, jelas hal yang membanggakan bagi seluruh publik Malang Raya dan khususnya para pendukung team berlogo kepala singa tersebut.

Pretasi Arema tak lepas dari dukungan Aremania yang tanpa henti memberikan dukungan setiap team berlaga, selain mereka (Aremania) Singoedan berhasil menggapai tahta tertinggi karena sosok Robert Rene Albert, pelatih asal Belanda yang baru pertama merumput di Indonesia langsung memberikan kontribusi luar biasa bagi Arema dan sepakbola Indonesia, bagaimana melihat olahraga tidak sekedar tontonan tapi juga sebagi suatu entertainment yang memberikan suguhan menarik bagi penikmatnya.

Namun nasib tidak berpihak pada Robert untuk tetap bertahan di Arema, ia dilepas ke PSM Makassar, tidak jelas apa alasannya namun setahu ayas ia dilepas karena menurut manajemen, Robert terlalu banyak syarat dan meminta kenaikan Gaji, sementara di lain pihak kubu PSM sudah beriming-iming dengan menjanjikan Robert banyak materi jika berlabuh di Juku Eja, sebenarnya permintaan Robert adalah wajar karena ia telah membuktikan dengan prestasi, sebagaimana semua orang, jika telah ada prestasi maka pantaslah ia meminta kenaikan Gaji.

Hal itu tidak di tanggapi Manajemen, Robert di lepas ke PSM, dan sekarang menggantinya dengan Miroslav Janu, Janu sendiri adalah pelatih yang bisa di bilang “tinggal enaknya saja” dulu usai Arema menjuarai Copa ia di rekrut manajemen dan di percaya membawa Arema di Liga Champion Asia, dan hasilnya masih kurang memuaskan, Singoedan di habisi team asal Korea dan team Asia lainnya, selama perjalanan penampilan Janu kurang maksimal sehingga team tertahan di klasemen tengah, di tangan Janu juga kandang SINGOEDAN tidak lagi terjaga keangkerannya.

Musim ini ia kembali di ambil Singoedan usai team jadi Juara, tak pelak musim ini pula ia akan membawa Singoedan di level Asia, kepercayaan yang tinggi dari manajemen setelah pada musim dulu juga kurang apik membawa Arema, akahkah Janu berhasil memberikan yang terbaik untuk Arema? dan apakah Janu akan membangun lagi dari Nol? tidak sebenarnya! karena para pemain yang berlaga pada musim ini tidak berbeda jauh pada musim lalu saat masih di pegang Robert Rene Albert.

Dalam ujicoba pun saat sudah dipegang Janu musim ini team Arema kurang maksimal, banyak di tahan imbang dari team-team kecil, ia beralasan banyaknya pemain yang belum bisa memperkuat Arema, kemenangan besar saat terakhir Ujicoba melawan Persija JAKARTA dengan skor 2-0 di Kanjuruhan beberapa waktu yang lalu.

Laga Community Shield di hadapan Aremania, Janu kembali membuat blunder, kandang Singoedan sudah seakan tidak angker lagi bagi tamu, dan nampaknya ini adalah gambaran Arema kedepan, dan ternyata Sriwijaya masih tangguh bagi Arema 3-1 untuk kemenangan Laskar WoNG Kito, dan gelar kedua bagi team kebanggan Singa Mania. Mesti banyak belajar dari kegagalan tersebut.

Beragam respon dari Aremania muncul dan lantas mengatakan PECAT JANU ambil Robert kembali ke Malang!!!…..hahaha… sudah jelas Robert milik PSM dan pasukan Ramang beruntung di laga away pertamanya berhasil menekuk tuan Rumah Persijap dengan skor 0-1 akankah prestasi baik ini akan di bawa PSM ke depan di bawah tangan dingin Robert Rene Albert? yah itu urusan mereka.

Yang jelas Arema sekarang di latih Janu, sebagai supporter kita harus percaya bahwa Janu pasti bisa lebih baik dari Robert, akankah away pertama di Samarinda Arema akan menampilkan permainan terbaiknya? ingat! musim lalu Arema sukses saat away di Kalimantan, kita adalah Aremania dan Bukan Robert Mania, tidak akan belajar jika tidak ada kesalahan.Terima Kasih atas Jasamu Robert, dan sekarang kami percaya pada Miroslav Janu, Salam Satu Jiwa.


artikel dan photo diambil dari http://www.supporter-indonesia.com/


share on facebook

Read More......

Pussycat Dolls - Stick Wit You

The Pussycat Dolls - Stickwitu Lyrics



I don't want to go another day
So I'm telling you exactly what is on my mind
Seems like everybody is breaking up
Throwing their love away
I know I got a good thing right here
That's why I say (Hey)

Nobody's going to love me better
I'm going to stick with you
Forever
Nobody's going to take me higher
I'm going to stick with you
You know how to appreciate me
I'm going to stick with you
My baby
Nobody ever made me feel this way
I'm going to stick with you

I don't want to go another
So I'm telling you exactly what is on my mind
See the way we ride
In our privated lives
Ain't nobody getting in between
I want you to know that you're the only one for me
And I say

Nobody's going to love me better
I'm going to stick with you
Forever
Nobody's going to take me higher
I'm going to stick with you
You know how to appreciate me
I'm going to stick with you
My baby
Nobody ever made me feel this way
I'm going to stick with you

And now
Ain't nothing else I can need
And now
I'm singing 'cause you're so, so into me
I got you
We'll be making love endlessly
I'm with you
Baby, you're with me

So don't you worry about
People hanging around
They ain't bringing us down
I know you and you know me
And that's all that counts
So don't you worry about
People hanging around
They ain't bringing us down
I know you and you know me
And that's why I say

Nobody's going to love me better
I'm going to stick with you
Forever
Nobody's going to take me higher
I'm going to stick with you
You know how to appreciate me
I'm going to stick with you
My baby
Nobody ever made me feel this way
I'm going to stick with you

Nobody's going to love me better
I'm going to stick with you
Forever
Nobody's going to take me higher
I'm going to stick with you
You know how to appreciate me
I'm going to stick with you
My baby
Nobody ever made me feel this way
I'm going to stick with you


Get Free Music at www.divine-music.info

Get Free Music at www.divine-music.info



Free Music at divine-music.info






share on facebook

Read More......

FOTO-FOTO Timnas Indonesia Kita nih .. cekidot!

foto2 timnas indonesia nih gan.. sori kalo :repost:
sapa tau ada yg lum liat



Scott Jamieson of Australia (L) looks on as Indonesia's Elie Aiboy gains control of the ball during the group B AFC Asian Cup 2011 Qualifiers at Bung Karno stadium in Jakarta on January 28, 2009. Indonesia and Australia drew 0-0. AFP PHOTO/ADEK BERRY



Indonesian captain Ponaryo Astaman (R, #11) looks on as South Korean Cho Jae-jin kicks a ball during their Asian Cup 2007 Group D football match at the Bung Karno stadium in Jakarta, 18 July 2007. South Korea leads Indonesia 1-0. AFP PHOTO/Jewel SAMAD



Omani player Mohammed Abdullah (L) vies with Indonesia's Bambang Pamungkas (R) during their 2011 Asian Cup qualifying football match in Muscat on January 19, 2009. AFP PHOTO/MOHAMMED MAHJOUB



Teeratep Winothai (L) of Thailand and Muhammad Roby of Indonesia fight for the ball during the AFF Suzuki Cup football match in Jakarta on December 16, 2008. Thailand won 1-0. AFP PHOTO/ADEK BERRY



German league and Cup champions Bayern Munich goalkeeper and captain Oliver Kahn (front) foils an attempt by Bambang Pamungkas of Indonesia during a friendly match between Bayern Munich and Indonesian national team at the Bong Karno stadium in Jakarta on May 21, 2008. Bundesliga leaders Bayern Munich defeated the host 5-1. AFP PHOTO/Jewel SAMAD



Indonesia's Arif Suyono (L) and Thailand's Jeera Jareansuk (C) vie for the ball during the group A football match between Indonesia and Thailand at the 24th Southeast Asian Games (SEA games) in Korat, 07 December 2007. Thailand was leading 2-1 at half time. AFP PHOTO/SAEED KHAN



German league and Cup champions Bayern Munich goalkeeper Michael Rensing (bottom) foils an attempt by Heru Nerli of Indonesia during a friendly match between Bayern Munich and Indonesian national team at the Bong Karno stadium in Jakarta on May 21, 2008. Bundesliga leaders Bayern Munich defeated the host 5-1. AFP PHOTO/Bay ISMOYO



Indonesian goalkeeper Markus Horison (R) catches the ball as Australia's Danny Allsopp (L) and Indonesia's Charis Yulianto (C) look on during the group B AFC Asian Cup 2011 Qualifiers at Bung Karno stadium in Jakarta on January 28, 2009. Indonesia and Australia drew 0-0. AFP PHOTO/ADEK BERRY



German soccer club Borussia Dortmund's player Nelson Valdez (R#9) vies for the ball with Indonesia's Charis Yulainto (#6) during an international friendly football match at the Bung Karno stadium in Jakarta, 19 December 2007. Borussia Dortmund won 1-0. AFP PHOTO/Jewel SAMAD



Indonesia's Irvin Museng (L) vies with Mohammad Rakin Ramli (R) of Brunei during their match at the Asian Football Federation (AFF) U17 Youth Championship 2007 tournament at the Olympic National Stadium in Phnom Penh, 19 August 2007. Cambodia kicked off the first Asian Football Federation (AFF) U17 Youth Championship 2007 hoping the event will boost its battered football program. AFP PHOTO / TANG CHHIN SOTHY



Dean Heffernan of Australia fights for the ball against Indonesia's Richardo Salampessy as compatriot goalkeeper Markus Horison (R) looks on during the group B AFC Asian Cup 2011 Qualifiers at Bung Karno stadium in Jakarta on January 28, 2009. Indonesia and Australia drew 0-0. AFP PHOTO/ADEK BERRY



Indonesian President Susilo Bambang Yudhoyono (R) and French football hero Zinedine Zidane (L) holds each others hands as they pose for photo before their meeting at the presidential palace in Jakarta, 06 July 2007. Zidane gave a spot of coaching to Indonesia's president as he began a three-day visit in the world's fourth most populous nation to promote his sport to children. AFP PHOTO/Bay ISMOYO


share on facebook

Read More......

akhirnya,Arema Juara!!!





cak Yuli Sumpel(tengah) ikut mengangkat replika thropy juara



Arema Indonesia berhasil mempersembahkan Thropy juara untuk pendukung setia mereka,Aremania.



Skuad Aremania Indonesia memastikan gelar juara di Pekanbaru,setelah berhasil menahan imbang tim PSPS Pekanbaru


coach RA,meraih gelar juara di musim pertama nya melatih di sebuah klub di Indonesia


Pasoepati Solo pun ikut merayakan keberhasilan Arema Indonesia


striker Arema Indonesia asal Singapura,Nhoh Alam Syah merayakan gelar juara bersama Anak dan Istrinya...


Arema Indonesia memang pantas menjadi juara.


semua foto di atas di ambil dari flickr ongisnade.net





share on facebook

Read More......

Sejarah Pasoepati

Pasoepati adalah nama sebuah kelompok suporter sepak bola yang berasal dari kota Solo. Terbentuknya Pasoepati tidak terlepas dengan kehadiran klub sepak bola Pelita Jaya yang pernah berkandang di stadion Manahan tahun 2000 lalu. Sembilan Februari 2000 lahirlah kelompok suporter Pelita, bernama Pasukan Soeporter Pelita Sejati atau yang disingkat dengan sebutan Pasoepati.



Sinergi Pelita dan Pasoepati saat itu menjadi gairah baru yang mempersatukan publik bola Solo dan sekitarnya. Pasoepati adalah hasil akal budi seorang praktisi periklanan Solo, Mayor Haristanto. Ia mengambil prakarsa ketika tak ada wong Solo berani jemput bola guna membangun organisasi suporter ketika publik bola Solo terserang euforia karena tiba-tiba hadir tim elit Liga Indonesia di kotanya. Dengan menunggangi gairah warga Solo yang meluap, dipadu sinergi cerdas dengan media massa lokal dan nasional, Pasoepati meroket menjadi meteor di kancah persepakbolaan nasional.

Dalam perjalanan Pasoepati yang sudah berumur 10 tahun ini, Pasoepati tercatat sudah memberikan dukungannya kepada tiga klub yang pernah ada di kota Solo. Diawali di tahun 2000 dengan kehadiran Pelita Jaya yang kemudian menjadi cikal bakal terbentuknya Pasoepati.

Di tahun 2003, hengkangnya Pelita dari kota Solo kemudian digantikan oleh klub asal Jakarta Timur yang kemudian meleburkan namanya sebagai Persijatim SOLO FC. Namun, nostalgia Pasoepati dengan Persijatim ternyata hanya berlangsung selama 3 tahun. Dan di tahun 2006, Pasoepati akhirnya mengikrarkan dirinya untuk mendukung tim asli daerah, Persis Solo, seiring juga prestasinya berpromosi ke divisi utama.

Jangan pernah menanyakan tentang loyalitas kepada Pasoepati. Meski harus dihadapkan dengan situasi klub kebanggaannya (Persis Solo) yang saat ini terbilang minim sekali prestasi, Pasoepati tetap setia dan mempunyai loyalitas dan dedikasi tinggi terhadap klub yang didukungnya.



Meski berasal dari kota Solo, namun Pasoepati juga mendapatkan dukungan dari masyarakat luas di kabupaten Klaten, Boyolali, Sukoharjo, Sragen, Karanganyar dan Wonogiri. Dukungan luas dari berbagai daerah menjadikan Pasoepati sebagai salah satu kelompok suporter terbesar di Indonesia. Pasoepati telah berhasil menjadi wadah pemersatu puluhan ribu warga Solo dan sekitarnya untuk bisa saling bersatu, saling bahu-membahu mendukung sebuah tim sepak bola yang bisa membuat bangga kota Solo tercinta.

Berdiri :
Rabu Legi, 9 Februari 2000 di Griya Reka Grupe Mayor, Jalan Kolonel Sugiyono 37, Solo.

Pencetus nama :
Suwarmin

Bunda Pasoepati :
Kris Pujiatni, S.Psi

Pendiri :
Arno Suparno, Bambang Eko S, Bimo Putranto, Dencis, Deny Susanto, Donny, Dwi, Hariyanto, Iwan Budi Prasetyo, Maeda Daneswara, Mashadi “Pete”, Mayor Haristanto, Rio, Siswanto, Sukimo, Sukirno, Supriyadi “Ateng”, Suwandi, Suwarmin, Tommy, Wawan.

artikel dan photo diambil dari www.pasoepati.net

share on facebook

Read More......

Sam Yuli Sumpil (Aremania)

Bagi yang belum mengenal Yuli Sumpil, tokoh dalam The Conductors, film dokumenter teranyar karya Andi Bachtiar Yusuf.
The Conductors berusaha untuk mengungkap sisi lain dari Addie MS (Twilite Orchestra), AG Sudibyo (Paduan Suara Mahasiswa UI) dan Yuli “Sumpil” (Aremania), menampilkan kiat dan semangat dari anak manusia yang sangat mencintai profesinya tersebut. Film yang telah diputar pada ajang Jakarta International Film Festival (JiFFest) 2007 lalu tersebut merupakan karya dokumenter kedua pria yang lebih akrab dipanggil “Ucup” setelah The Jak (2007). Dan setelah premiere di Jakarta, akan diputar di Bandung, Malang, Semarang, Yogyakarta, Jember, Purwokerto, Pusan (Korea Selatan).



“Cita-cita saya, pagar besi pembatas tribun dengan lapangan nanti tidak perlu ada lagi. Jadi kita menonton sepakbola dengan enak, tidak ada perkelahian, tidak ada suporter yang mengganggu pemain. Saya juga ingin semua golongan bisa bersatu di sini. Kaya atau miskin, laki-laki atau perempuan, Cina atau bukan Cina, pejabat atau orang biasa, Islam atau Kristen, di sini semuanya bisa sama,”


Laki-laki muda itu sudah menjadi suporter fanatik klub sepakbola kotanya sejak masih anak-anak. Ia lahir dan tinggal di Malang, Jawa Timur, dan klub sepakbola itu bernama Arema (Arek Malang). Yuli Sugianto adalah salah satu suporter paling populer di kalangan Aremania, sebutan bagi suporter Arema. Bersama suporter Persebaya (Persatuan Sepakbola Surabaya) yang disebut Bonek (bandha nekat, modal nekat), Aremania terkenal sebagai suporter paling fanatik dalam sejarah sepakbola Indonesia.

Yuli berkisah sudah sejak anak-anak ia selalu berusaha melakukan apa saja demi menonton pertandingan Arema. Semasa duduk di bangku Sekolah Menengah Pertama (SMP) misalnya, jika tak ingin terlambat datang ke stadion, ia harus membolos sekolah sore. Dan jika pertandingan berlangsung di luar kota, itu berarti ia harus siap sejak pagi, bersiap menunggu di pinggir jalan raya, dan siap melompat ke dalam bak truk atau mobil angkutan barang lain untuk menuju kota tujuan.

Sekarang Yuli adalah dirigen Aremania. Seorang dirigen, layaknya seorang konduktor dalam pertunjukan orkestra, adalah orang yang memimpin para suporter untuk menyanyi dan menari dalam sebuah pertandingan sepakbola. Seorang dirigen menentukan lagu mana yang harus dinyanyikan dan gerakan tubuh macam apa yang mesti dilakukan. Aremania punya dua dirigen. Selain Yuli juga ada Yosep, yang biasa dipanggil Kepet.

Di kalangan Aremania, dirigen dipilih dengan cara yang tidak terlalu rumit. Tidak ada pemungutan sura yang berlangsung dengan ketat. Seseorang dipilih menjadi dirigen karena penampilan fisiknya yang menarik (ceria, nyentrik, dll.), kemampuannya berkomunikasi dengan suporter lain, dan kemampuannya membangkitkan semangat suporter untuk terus memotivasi tim yang didukungnya. Oleh sejumlah suporter seorang dirigen ditunjuk dengan cara yang sulit dijelaskan, hampir kebetulan saja, sebelum sebuah pertandingan sepakbola dimainkan. Tetapi begitu seorang dirigen terpilih, jabatan itu akan disandangnya terus, tanpa batas waktu yang jelas, sampai ia mengundurkan diri atau kehilangan kemampuan untuk memimpin. Begitulah, tujuh tahun lalu dan Kepet terpilih begitu saja sebagai dirigen Aremania. Dan hanya kepada mereka berdualah 30 ribuan Aremania mau tunduk. “Mungkin saya dipilih karena berambut gondrong dan suka menari sambil memanjat pagar pembatas lapangan. Kalau Kepet mungkin karena ia punya banyak teman. Ia kan tinggal dekat stadion,” kata Yuli.



Di Stadion Gajayana Malang, markas Arema, Yuli dan Kepet mesti berbagi wilayah kekuasaan. Wilayah kekuasaan Yuli adalah tribun bagian timur, tepat di bawah papan skor. Wilayah Kepet adalah tribun bagian selatan. Sementara tribun VIP dibiarkan tanpa dirigen.

Pertandingan sepakbola biasanya dimulai jam 4 sore, tetapi para suporter sudah memadati stadion sejak 2 jam sebelumnya. Mereka memainkan genderang, terompet, menyanyi, menari dan menyulut kembang api dan petasan. Sebelum dirigen datang, atraksi-atraksi ini berlangsung sporadis, dalam kelompok-kelompok kecil, dan tidak kompak. Tetapi begitu mereka melihat kedatangan Yuli dan Kepet, secara otomatis semuanya akan bertepuk tangan dan bertempik-sorak seperti menyambut kedatangan presiden mereka. Yuli dan Kepet tersenyum, dan begitu mereka melambaikan tangan, ribuan suporter ini menjadi lebih tenang. Semua musik, lagu, dan tarian dihentikan. Yuli dan Kepet akan segera menaiki singgasana mereka, yaitu pagar besi pembatas lapangan setinggi 2 meter. Mereka mulai menjalankan tugasnya; sambil berdiri di atas pagar menghadap ke tribun penonton mereka menggerakkan tangan dan kaki, memiringkan dan memutar tubuhnya ke kiri, kanan, depan, dan belakang sebagai alat untuk memberi aba-aba. Ribuan penonton menjadi kompak dan memainkan musik, menyanyi, dan menari. Semuanya mengikuti aba-aba dan contoh gerakan yang dilakukan Yuli dan Kepet.

Sepuluh menit sebelum pertandingan dimulai, Yuli dan Kepet memberi aba-aba berhenti. Kalau mereka sudah menaikkan tangan kanan ke atas, itu artinya tarian akan berhenti dan para suporter akan segera menyanyikan lagu Padamu Negeri.[1] Para pemain memasuki lapangan, wasit meniup peluit, pertandingan segera dimulai, tarian dan lagu dimainkan kembali. Karena atraksi-atraksinya yang menarik, Arema pernah memenangi penghargaan suporter terbaik dari Persatuan Sepakbola Seluruh Indonesia (PSSI).

Satu-satunya kelompok suporter besar yang tetap tinggal “liar” adalah Aremania. Klub dan Pemda tidak memberi bantuan dana atau berkeinginan membuat organisasi formal untuk suporter. Para suporter tetap membuat kelompoknya sendiri dengan keinginan mereka sendiri, kelompok-kelompok ini mereka sebut dengan Korwil (Koordinator Wiyalah). Di Malang sekarang ini sekurang-kurangnya ada 125 Korwil Aremania. Tiap Korwil punya seorang ketua yang hanya bertugas mengumpulkan suporter di wilayahnya menjelang Arema bertanding. “Tidak perlu organisasi-organisasian. Kalau ada organisasi itu repot, nanti malah diatur-atur, disuruh begini, disuruh begitu, bayar ini, bayar itu. Apalagi kalau sampai dikait-kaitkan sama partai politik segala,” kata Ponidi—dikenal sebagai Tembel—Ketua Korwil Stasiun. Meski tiap Korwil punya ciri khas sendiri, yang ditandai dengan bendera, spanduk, seragam, dan dandanannya, komando di stadion tetap ada di tangan dirigen. Hanya Yuli dan Kepet yang mampu mengatur dan menenangkan merea. “Pengurus klub atau walikota sekalipun tidak akan bisa ada artinya bagi suporter. Dia tak akan mampu mengatur 30 ribu orang. Tapi begitu Yuli atau Kepet yang ngomong, ya semuanya manut,” jelas Tembel.

Yuli adalah pemuda dari keluarga miskin yang tinggal di sebuah kampung di bagian timur Malang. Sebelum menjadi dirigen Aremania, sejak lulus dari sebuah Madarasah Aliyah, Yuli bekerja sebagai pencuci mikrolet—angkutan umum dalam kota. Ia biasa bekerja dari jam 4 sore hingga jam 12 malam, dari pekerjaannya, dalam sehari Yuli bisa memeroleh 10 ribu hingga 15 ribu rupiah.

Sejak menjadi dirigen, Yuli praktis berhenti bekerja. Menurutnya pilihan ini adalah saran orangtuanya yang tak tahan melihat Yuli menghabiskan hampir semua waktunya untuk mengurusi sepakbola, sepakbola, dan sepakbola. Ia kini menggantungkan hidupnya pada orangtuanya. Bapaknya, Asip, bekerja sebagai tukang kayu panggilan. Semenntara ibunya, Juwariyah, mendapatkan uang dengan menjual makanan rumahan bikinannya ke warung-warung di sekitar kampungnya. Yuli mengatakan setiap hari mendapat uang saku antara 500 hingga 2000 rupiah dari bapak atau ibunya. “Yul, ini ada sedikit uang untuk beli rokok,” kata Yuli menirukan ibunya.

Jika Liga sedang berjalan—yang berarti setiap minggu hampir selalu saja ada pertandingan sepakbola—Yuli harus menyisihkan sedikit jatah uang rokoknya agar bisa membeli tikat dan masuk stadion. Tetapi kalau kondisi keuangan keluarganya yang benar-benar sulit, Yuli kadang terpaksa menjual asesoris-asesoris suporternya untuk bisa membeli tiket. Tak jarang ia harus merelakan kaus atau syal kesayangannya dengan harga 10 hingga 20 ribu rupiah. “Sebenarnya sedih juga, karena barang-barang itu punya nilai sejarah bagi saya. Tapi saya akan lebih sedih lagi kalau tidak bisa masuk ke stadion dan menjadi dirigen bagi teman-teman,” katanya. Kadang-kadang Yuli juga membantu menjual tiket pertandingan. Beberapa hari sebelum pertandingan Yuli akan mengambil tiket di Mess Arema. Untuk tiap tiket seharga 10 ribu rupiah bisa dijualnya ia mendapat bagian 10 persen atau seribu rupiah. Agar bisa nonton pertandingan sekurang-kurangnya Yuli harus bisa menjual 10 tiket.

Seperti kebanyakan pemuda kota yang tinggal di kampung padat dan miskin, Yuli gemar sepakbola dan sering terlibat tawuran (perkelahian massal) antarkampung. “Buat saya dulu tawuran adalah bagian dari sepakbola. Sepakbola nggak ada tawuran seperti sepakbola banci,” kata Yuli. Ia kemudian bercerita, beberapa tahun lalu—sebelum menjadi dirigen—bersama 30 temannya ia datang ke Jakarta untuk melihat Arema bertanding. Ia berangkat dari rumah dengan sudah menyiapkan sebilah pedang. “Waktu itu, ini perlengkapan standar,” katanya. Di Jakarta ia terlibat bentrokan dengan kelompok Bonek di depan Stasiun Pasar Senen. Mula-mula hanya saling melempar batu, tapi kemudian menjadi saling kejar, memukul dengan potongan kayu atau besi, bahkan hingga sabetan pedang. “Yang saya ingat, keesokan harinya saya baca di koran ternyata ada 3 orang Bonek yang mati. Sementara kami semua selamat,” katanya.

Yuli kini ingin melupakan masa lalunya. Di ruang tamu rumahnya yang sempit, ia memasang fotonya ketika bersalaman dengan Ketua PSSI Agum Gumelar. Di foto itu, Yuli—berambut gondrong dan berkaus Arema warna biru—tampak tersenyum bangga. Katanya, “Saya diundang di acara pembukaan Liga Indonesia dan dikirimi tiket pesawat untuk hadir mewakili suporter”.

Karena tak bekerja, sehari-hari Yuli menghabiskan waktunya dengan nongkrong sja. Saya ingat waktu bertemu dengannya pertama kali tiga tahun lalu, ia tengah nongkrong di Salon Cimenk yang terletak beberapa ratus meter saja dari rumahnya. Didik, pemilik salon ini, adalah teman Yuli sesama Aremania. Ketika saya datang rupanya mereka sedang membicarakan rencana menjahit pakaian dirigen baru buat Yuli. Untuk urusan dandanan Yuli mengaku memang sering dibantu Didik. Sekali mencat rambut ia cuma akan membayar 10 atau 20 ribu. Tapi Yuli lebih sering tak membayar, karena ia memang jarang punya cukup uang. Suatu ketika karena merasa sungkan dan terlalu sering tidak membayar, sebelum berangkat ke stadion Yuli pernah mencat saja rambut gondrongnya dengan cat kayu, warna biru. Jelasnya, “Agar mudah membersihkannya, saya lumuri dulu rambut saya dengan minyak goreng, setelah itu baru saya cat. Saya ingin selalu bisa menarik perhatian di lapangan.”



Yuli punya cukup banyak koleksi asesoris Aremania. Dengan bersemangat ia menunjukkan koleksi kaus dan pakaian dirigennya pada saya. Yuli punya macam-macam kaus Arema, dari kaus seperti yang dipakai para pemain—warna biru putih—sampai kaus-kaus bergambar kepala singa, lambang Arema, yang memang punya julukan sebagai tim Singo Edan (singa gila). Kebanyakan kaus macam ini bertuliskan “Kera Ngalam” atau “Ongis Nade”. Keduanya adalah bahasa slang Malang yang berarti “Arek Malang” dan “Singo Edan”.

“Saya biasanya pakai kaus Arema, tapi bawahannya bisa ganti-ganti, yang penting warna dan modelnya menyolok mata. Seorang teman suporter pernah memberi saya pakaian Skotlandia,” kata Yuli sembari mengeluarkan pakaian bermotif kotak-kotak khas skotlandia dari lemarinya. Sebentar kemudian ia mengeluarkan lagi beberapa pakaian, dari yang berbahan kulit sintetis hingga kain sarung dan kain perca. Hampir semua pakaian ini dirancang sendiri oleh Yuli. Biasanya ia mendapat ide model-model pakaian baru setelah menonton pertandingan sepakbola Liga Italia atau Inggris di televisi.

Saya membuka-buka koleksi foto Yuli. Ia memberikan penjelasan detil untuk tiap foto yang saya lihat. Ketika saya sampai pada sebuh foto yang memerlihatkan sepasang lelaki dan perempuan berbaju pengantin, sementara di sekelilingnya adalah laki-laki dan peremuan yang semuanya berkaos biru Arema, Yuli menjelaskan bahwa itu adalah acara pernikahan seorang Aremania. Ia malah menceritakan tentang seorang Aremania lain yang naik haji ke Mekkah dengan membawa syal dan bendera Arema.

Kamar Yuli kecil saja, 3 kali 3 meter. Dindingnya dicat biru, dipenuhi poster dan macam-macam hiasan dinding yang berbau Arema. Sebuah poster paling besar, kira-kira berukuran 1 kali 1,5 meter, dibuat dengan teknik cetak yang baik, memerlihatkan gambar kepala singa, foto tim Arema, dan ribuan suporter Arema. Bagian bawah poster itu bertuliskan “Di saat prestasi bangsa Indonesia sedang terpuruk, bumi pertiwi bersimbah darah, nusantara sedang tercabik, Aremania melalui panggung sepakbola telah membuat jutaan pasang mata di layar kaca terkagum oleh sportivitas,” kemudian dilanjutkan dengan kalimat-kalimat berbahasa Inggris, “Aremania, pride of the city, friendship without frontier, footbal without violence, the incorporable suporter, the incredible Malangese”.



Di kamar ini Yuli mengarang tarian dan lagu-lagu buat Aremania. Sebenarnya ia tak benar benar-benar mengarang, ia hanya memodifikasi saja syair lagu-lagu yang sudah ada, sementara nada dan iramanya tetap dipertahankan. Sumbernya bisa datang dari mana saja. Bisa lagu-lagu tentara Indonesia, lagu pop, lagu anak-anak, lagu pramuka, lagu selamat ulang tahun, sampai lagu suporter Juventus, suporter kesebelasan Cili, atau lagu marinir Amerika yang dilihatnya di film atau televisi. Yuli hafal di luar kepala semua lagu yang berjumlah 30-an itu. Untuk tarian, Yuli mengaku sekenanya saja. Prinsipnya adalah ia harus bisa membuat gerakan tubuh yang mudah ditirukan dan dingat orang lain. Menurut Yuli, seringkali para suporter juga memberikan usulan tarian dan lagu baru beberapa saat sebelum sebuah pertandingan dimulai.

Kini orang ramai berdatangan ke Stadion Gajayana. Mereka datang bukan hanya untuk sepakbola, tetapi juga untuk melihat bagaimana Aremania menyanyi dan menari. Dulu menonton sepakbola di Gajayana hanyalah monopoli orang-orang pribumi laki-laki, tapi kini perempuan dan orang-orang keturunan Cina juga datang menonton ke stadion. Hampir-hampir tak ada lagi kerusuhan dan perkelahian.

“Cita-cita saya, pagar besi pembatas tribun dengan lapangan nanti tidak perlu ada lagi. Jadi kita menonton sepakbola dengan enak, tidak ada perkelahian, tidak ada suporter yang mengganggu pemain. Saya juga ingin semua golongan bisa bersatu di sini. Kaya atau miiskin, laki-laki atau perempuan, Cina atau bukan Cina, pejabat atau orang biasa, Islam atau Kristen, di sini semuanya bisa sama,” kata Yuli.

artikel diambil dari news.aremania.com

share on facebook

Read More......

Kunci Sukses Arema Indonesia

satu kata yang menjadi kunci sukses Arema Indonesia berhasil memimpin klasemen sementara Indonesian Super League,serta berhasil lolos ke babak 8 besar Piala Indonesia,yaitu Kekompakan.

Arema Indonesia sudah di set memiliki rasa kebersamaan dan rasa kekeluargaan antar pemain.

berikut ini foto foto yang menunjukkan rasa kebersamaan itu...


personil Arema refreshing (mancing) bersama,sambil memupuk kekompakan.



Footballers Wife: Istri pemain-pemain Arema pun tak ketinggalan memberi dukungan langsung kepada punggawa Arema



akrab dan low profile: Noh Alam Shah bersama match steward Arema



Arema Indonesia berhasil menggabungkan generasi tua dan generasi muda



hubungan antara pemain dan pelatih yang sangat harmonis



Sayang anak: Bapak dan ibu Bustomi setia menunggu putranya di tribun, tak lupa dengan makanan favorit: kacang kedelai



semua pemain diperlakukan adil.sehingga tidak terdapat kesenjangan sosial yang bisa menghancurkan sebuah tim.



Aremania sebagai pemain ke 12 menjadi faktor terbesar kesuksesan Arema Indonesia.

foto foto diatas diambil dari flickr ongisnade



share on facebook

Read More......

Foto Foto punggawa Tim Thomas & Uber Indonesia 2010

semua foto dibawah ini diambil dari detiksport.com


Sekelompok warga Indonesia yang berada di Malaysia, datang memberi dukungan kepada arjuna dan srikandi "Merah Putih" di Putra Stadium, Bukit Jalil.


Dalam usianya yang 32 tahun Nova Widianto adalah pemain paling senior di skuad Piala Thomas Indonesia 2010. Minum apa tuh?


Pelatih Marleve Mainaky memberi instruksi kepada Maria Febe Kusumastuti saat bertanding melawan tunggal pertama Australia, Leanne Choo.


Nitya Krishinda Maheswari (kiri) dan Greysia Polii di ruang ganti setelah mengalahkan Renuga Veeran/He Tian Tang dengan 21-16 dan 21-11. Mereka turun di partai kedua dan berhasil menyumbangkan satu poin untuk Indonesia.


Aksi ganda putri Shendy Puspa Irawati/Lilyana Natsir saat mengalahkan pasangan Australia, Kate Wilson Smith/Eugenia Tanaka, dengan 21-13 dan 21-11.


Taufik Hidayat membawa Indonesia unggul 1-0 atas India setelah mengalahkan Kashyap Parupalli. Sementara 2 kemenangan lainnya didapat dari partai ganda Markis Kido/Hendra Setiawan atas Sanave Thomas/Akhsay Dewalkar dan tunggal kedua Simon Santoso atas Arvind Bhatt.


Tunggal putri pertama Indonesia, Maria Febe Kusumastuti, tersenyum sebelum turun ke lapangan di Putra Stadium, Bukit Jalil. Ia memberi poin pertama dengan mengalahkan Leanne Choo 21-13 21-5.


Ekspresi Maria Kristin setelah memastikan Indonesia ke semifinal.


Jalannya pertandingan antara Mew Choo Wong (atas) melawan Adriyanti Firdasari.


Kepastian Tim Thomas Indonesia mengambil satu tempat di semifinal di dapat setelah Simon Santoso menghempaskan perlawanan Arvind Bhatt, 21-8, 21-10. Di babak empat besar, tim Thomas Indonesia akan berhadapan dengan tim Jerman atau Jepang.

semua foto diatas diambil dari detiksport.com



share on facebook

Read More......

Maria Kristin Yulianti

Seperti biasa hari ini aku bangun siang hari lagi....
kulihat jam dinding ku dah pukul 2 siang.
ku dengar di ruang tamu paman,bibiku dan anaknya kuciak kuciak (teriak teriak)...langsung aja aku bangun langsung cuci muka sambil melirik mencari tahu apa yang sebenarnya terjadi....
eeeee ternyata mereka lagi nonton tipi...
aku baru sadar kalo hari ini ada pertandingan perempatfinal Uber Cup antara Tim Indonesia melawan tuan rumah Malaysia yang disiarkan langsung oleh TRANS 7.


tahu gitu,aku pun malah sekalian mandi aja...
selesai mandi,aku gabung dengan keluargane pamanku nonton tipi.
tapi aku dah ketinggalan 2 partai....
penyiarnya bilang kalo partai pertama yaitu tunggal putri Ardiyanti Firdasari berhasil mengatasi Wong Mei Chou,dua set langsung.sedangkan di partai kedua yaitu partai ganda,Indonesia berhasil menang lewat ganda putri Gressya Polli dan Melyana Jauharri...
untung saja aku masih kebagian partai ketiga.
kali ini yang bertanding adalah pemain idolaku,Maria Kristin Yulianti sebagai tunggal kedua.




aku mengidolai dia karena dia keren bagiku.
kulitnya jawa banget,manies pula.
tubuhnya sangat sangat proporsional.
cewek kelahiran Tuban pada 25 Juni 1985 ini kalem sekali saat bertanding.
wajahnya tanpa ekspresi sama sekali.
punya pukulan yang sangat matang dan mematikan bagi lawan,walaupun dia jarang melakukan smash.



lihat profil Maria K Yulianti di PB Djarum



dia adalah atlet yang sangat bertalenta.pertama kali menjadi wakil negara pada ASEAN School 2002 di Malaysia.



pemain yang memilikii hobi shopping dan membaca ini sempat mengalami cedera yang cukup menghambat karir bulutangkisnya.
sampai sekarang pun, balutan decker biru selalu menghiasi kaki kanan nya di saat bertanding.



tapi alhamdulillah,siang tadi Yulianti berhasil mengkandaskan tunggal putri tuan rumah dua set langsung dan berhasil mengantarkan Tim Uber Indonesia maju ke semifinal Thomas & Uber Cup 2010 yang akan menghadapi Tim China.



mari kita dukung M K Yulianti dan kawan kawan supaya dapat mengembalikan lagi Piala Thomas dan Uber kembali ke Negeri tercinta Indonesia.






share on facebook

Read More......